Warga Iran Beralih ke USDT Saat Rial Tertekan dan Infrastruktur Digital Terguncang
![]() |
| Warga Iran tinggalkan rial usai tertekan (Dok. Unsplash) |
Cari Uang - Tekanan ekonomi yang semakin berat membuat masyarakat Iran kian mengandalkan aset kripto, khususnya stablecoin USDT, sebagai alternatif penyimpanan nilai.
Kelemahan mata uang rial dan inflasi yang terus meningkat mendorong warga mencari perlindungan terhadap daya beli mereka, terutama setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 memperparah situasi.
Serangan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga mengguncang infrastruktur digital Iran.
Konektivitas internet dilaporkan sempat merosot hingga sekitar 99 persen.
Aktivitas ekonomi berbasis digital pun tersendat, termasuk perdagangan kripto.
Dalam beberapa hari setelah insiden, volume transaksi aset digital turun sekitar 80 persen.
Sejumlah bursa kripto menghentikan sementara penarikan dana, sementara platform lain membatasi transaksi antara kripto dan mata uang lokal.
Meski begitu, ekosistem kripto Iran tidak sepenuhnya lumpuh.
Perusahaan analitik blockchain seperti TRM Labs menyebut kondisi tersebut sebagai tekanan berat, namun bukan kegagalan sistem.
Aktivitas perlahan kembali berjalan meski dalam keterbatasan.
Data dari TRM Labs dan Chainalysis memperkirakan total transaksi kripto di Iran sepanjang 2025 berada di kisaran 8 hingga 10 miliar dolar AS.
Angka ini menunjukkan meningkatnya peran aset digital dalam sistem keuangan masyarakat setempat.
Stablecoin seperti Tether (USDT) menjadi pilihan utama karena nilainya dipatok terhadap dolar AS.
Di pasar domestik, pasangan perdagangan USDT–toman menjadi jalur utama konversi mata uang lokal ke aset digital.
Ketika permintaan melonjak dan nilai rial tertekan, Bank Sentral Iran sempat meminta bursa menghentikan sementara perdagangan pasangan tersebut guna meredam pelemahan lebih lanjut.
Laporan terpisah dari Elliptic menyebut Bank Sentral Iran diduga telah mengumpulkan sedikitnya 507 juta dolar AS dalam bentuk USDT.
Langkah ini disebut sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada sistem perbankan global yang dibatasi sanksi internasional.
Di sisi lain, Chainalysis menyoroti bahwa sebagian aktivitas kripto di Iran dikaitkan dengan jaringan yang berhubungan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
TRM Labs mengidentifikasi lebih dari 5.000 alamat dompet digital yang diduga terkait kelompok tersebut, dengan total pergerakan dana sekitar 3 miliar dolar AS sejak 2023.
Fenomena ini juga menjadi perhatian regulator internasional.
Financial Action Task Force (FATF) dalam laporannya menyebut stablecoin menyumbang sekitar 84 persen dari total volume transaksi kripto ilegal pada 2025.
Lembaga tersebut mendorong pengawasan lebih ketat, termasuk kemampuan membekukan aset dan memblokir dompet digital yang terindikasi melanggar hukum.
Lonjakan penggunaan stablecoin di Iran menunjukkan bagaimana aset digital berperan sebagai instrumen lindung nilai di tengah krisis.
Namun di saat yang sama, perkembangan ini juga memunculkan tantangan baru bagi stabilitas keuangan dan pengawasan global.***

