Arus Keluar Kripto dari Bursa Iran Melonjak Setelah Serangan AS–Israel

Arus keliar kripto bursa Iran melonjak
Arus keliar kripto bursa Iran melonjak
(Unsplash) 


CariUang - Ketegangan geopolitik sering kali memicu pergeseran cepat dalam aktivitas pasar aset digital. 

Hal tersebut kembali terlihat di Iran setelah konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel memicu lonjakan penarikan dana kripto dari sejumlah bursa di negara tersebut.

Perusahaan analitik blockchain Chainalysis melaporkan adanya peningkatan signifikan arus keluar aset digital dari platform perdagangan kripto di Iran.

 Laporan yang dipublikasikan pada 3 Maret itu menunjukkan bahwa pergerakan dana meningkat tajam setelah serangan udara yang terjadi pada 28 Februari 2026.

Tim analis Chainalysis mencatat bahwa aktivitas di jaringan blockchain memperlihatkan peningkatan transaksi hanya beberapa jam setelah serangan berlangsung.

 Dalam periode 28 Februari hingga 2 Maret, total arus keluar kripto dari bursa di Iran diperkirakan mencapai sekitar 10,3 juta dolar AS.

Lonjakan ini jauh lebih tinggi dibandingkan aktivitas sebelumnya yang relatif stabil. 

Dalam beberapa jam tertentu, nilai penarikan bahkan mendekati atau melampaui 2 juta dolar AS per jam, menunjukkan reaksi cepat dari para pengguna terhadap situasi yang berkembang.

Sebagian besar dana tersebut diduga dipindahkan ke dompet pribadi milik warga Iran.

Selain itu, ada pula kemungkinan bahwa dana dialihkan ke infrastruktur baru milik bursa lokal atau merupakan penarikan langsung oleh pengguna yang ingin mengamankan aset mereka.

Chainalysis juga mengaitkan fenomena ini dengan pola yang pernah terjadi sebelumnya dalam ekosistem kripto Iran. 

Pada 2025, nilai aktivitas kripto di negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7,8 miliar dolar AS, dengan lonjakan transaksi sering terjadi saat kondisi domestik mengalami ketidakstabilan ekonomi maupun tekanan sanksi internasional.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa pengguna kripto di Iran tampaknya semakin terbiasa bertindak cepat ketika risiko meningkat.

 Pada beberapa insiden sebelumnya, penarikan dana meningkat menjelang atau sesaat setelah terjadinya gangguan internet.

 Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna mencoba memindahkan aset digital mereka sebelum akses terhadap layanan daring menjadi terbatas.

Kondisi serupa kembali terlihat setelah serangan terbaru. Pola penarikan yang meningkat sebelum dan sesudah gangguan konektivitas internet memperlihatkan bahwa banyak pengguna berusaha mengantisipasi ketidakpastian dengan memindahkan dana ke tempat yang dianggap lebih aman.

Meski begitu, Chainalysis menegaskan bahwa interpretasi data semacam ini tidak selalu sederhana. 

Sebagian transaksi kemungkinan besar dilakukan oleh masyarakat biasa yang ingin melindungi aset mereka di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Namun, ada pula kemungkinan lain, seperti bursa yang melakukan penyesuaian likuiditas internal atau memindahkan dana ke dompet berbeda untuk mengurangi visibilitas aktivitas mereka di jaringan blockchain. 

Selain itu, tidak tertutup kemungkinan adanya aktor yang memiliki keterkaitan dengan negara yang memanfaatkan platform kripto untuk memindahkan dana.

Oleh karena itu, perusahaan tersebut menilai bahwa diperlukan pemantauan blockchain secara berkelanjutan untuk memahami secara lebih jelas motif di balik pergerakan dana tersebut. 

Analisis lanjutan juga dibutuhkan guna membedakan antara aktivitas pengguna individu, strategi operasional bursa, maupun potensi keterlibatan entitas tertentu dalam transaksi berskala besar.

Baca Juga
Berbagi
Suka dengan artikel ini? Ajak temanmu membaca :D
Posting Komentar