Pasar Kripto Awali 2026 dengan Tekanan Berat, Kapitalisasi Global Susut Ratusan Miliar Dolar

Crypto cukup mengkhawatirkan di awal 2026
Crypto di awal 2026 memprihatinkan
(Dok. Unsplash) 


CariUang - Kondisi pasar aset kripto memasuki tahun 2026 dengan tren yang kurang menggembirakan. 

Setelah sempat berada di kisaran kapitalisasi total sekitar 2,95 triliun dolar AS pada awal tahun, nilainya kini turun menjadi kurang lebih 2,54 triliun dolar AS. 

Penurunan tersebut mencerminkan penyusutan nilai pasar sekitar 410 miliar dolar AS, dipicu oleh meningkatnya sentimen kehati-hatian di berbagai sektor keuangan.

Merosotnya kepercayaan investor turut terlihat dari Indeks Ketakutan dan Keserakahan kripto yang jatuh ke level 14, menunjukkan kondisi ketakutan ekstrem di pasar. 

Situasi ini terjadi seiring melemahnya harga Bitcoin yang menembus area penopang penting, sehingga memicu tekanan psikologis di kalangan pelaku pasar.

Setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi di angka 126.080 dolar AS pada Oktober 2025, harga Bitcoin kini telah turun sekitar 40 persen dari titik tersebut. 

Penurunan ini juga menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi setelah momentum politik di Amerika Serikat tahun lalu.

Data dari Glassnode menunjukkan bahwa sekitar 44 persen pasokan Bitcoin saat ini berada dalam posisi merugi. 

Sementara itu, jumlah suplai yang masih mencatat keuntungan menyusut dari sebelumnya 78 persen menjadi sekitar 56 persen. 

Hal ini menandakan banyak investor yang membeli di harga tinggi kini berada dalam kondisi tertekan.

Tekanan jual semakin terasa setelah harga Bitcoin turun di bawah 76.000 dolar AS, yang disebut sebagai rata-rata harga akumulasi oleh perusahaan Strategy. 

Dampak dari pelemahan ini tidak hanya dirasakan di pasar kripto, tetapi juga pada saham terkait seperti MSTR yang ikut mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.

Selain itu, gelombang penurunan harga juga memicu likuidasi besar-besaran dengan nilai mencapai sekitar 2,56 miliar dolar AS dalam waktu singkat, memperdalam tekanan terhadap pasar.

Di sisi lain, faktor regulasi juga mulai menambah beban bagi pelaku industri. 

Analis kripto Lark Davis menyampaikan bahwa otoritas pajak Amerika Serikat berencana meningkatkan pengawasan terhadap transaksi aset digital pada 2026.

Bursa kripto di negara tersebut akan diwajibkan melaporkan aktivitas penjualan pengguna langsung ke otoritas pajak melalui formulir baru bernama 1099-DA.

Kebijakan ini membuat setiap trader perlu lebih teliti dalam mencatat harga dasar pembelian untuk menghitung pajak secara akurat. 

Bahkan, penukaran antar aset kripto juga dianggap sebagai transaksi yang berpotensi dikenai pajak, sesuatu yang masih sering disalahpahami oleh sebagian pelaku pasar.

Laporan dari QCP Broadcast juga mencatat adanya pengurangan risiko di pasar derivatif Bitcoin selama periode penurunan ini. 

Hal tersebut terlihat dari menurunnya jumlah kontrak terbuka serta perubahan tingkat pendanaan menjadi negatif, yang mencerminkan sikap hati-hati investor.

Sementara itu, Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, menilai bahwa kondisi pasar saat ini merupakan bagian dari fase “musim dingin kripto” yang menurutnya telah berlangsung sejak Januari 2025.

Ia menyoroti penurunan harga Bitcoin sekitar 39 persen dari puncaknya pada Oktober, sementara Ethereum bahkan mengalami koreksi lebih dalam hingga sekitar 53 persen.

Menurutnya, selama periode tersebut, arus pembelian dari institusi melalui ETF dan strategi cadangan aset digital sempat menahan dampak penurunan yang lebih besar.

 Diperkirakan lebih dari 744.000 Bitcoin, dengan nilai sekitar 75 miliar dolar AS, telah diserap oleh institusi.

Ia juga menyoroti adanya perbedaan kinerja yang cukup tajam antara aset kripto yang didukung minat institusional dan yang tidak. 

Sepanjang 2025, Bitcoin, Ethereum, dan XRP tercatat hanya turun sekitar 10 hingga 20 persen, sementara token lain yang minim dukungan justru merosot lebih dari 60 persen.

Meski demikian, Hougan melihat adanya potensi titik terang.

Berdasarkan pola historis, fase penurunan pasar kripto biasanya berlangsung sekitar 13 bulan dari puncak hingga titik terendah. 

Jika dihitung sejak awal 2025, periode tersebut diperkirakan mulai mendekati fase akhir.

Ia menambahkan bahwa pada tahap akhir tren turun, pasar cenderung tidak terlalu merespons kabar positif seperti regulasi baru atau adopsi teknologi. 

Dalam banyak kasus sebelumnya, pemulihan justru terjadi karena pasar mulai jenuh dengan tekanan berkepanjangan, bukan karena euforia mendadak.

Baca Juga
Berbagi
Suka dengan artikel ini? Ajak temanmu membaca :D
Posting Komentar