Emas Bersinar, Minyak Tertekan, Bitcoin Jalan di Tempat, Beginilah inamika Pasar Global Sepanjang 2025
![]() |
| Saham mengalami pergerakan selama 2025 (Dok. Unsplash) |
CariUang - Pergerakan pasar global sepanjang 2025 memperlihatkan kontras yang mencolok antar aset utama.
Di tengah ketegangan perdagangan dan kebijakan tarif yang makin agresif, emas justru mencatat lonjakan signifikan.
Sebaliknya, harga minyak mentah tertekan, sementara Bitcoin belum menunjukkan arah yang tegas hingga akhir tahun.
Berdasarkan kompilasi data pasar kripto dan aset global, emas tampil sebagai pemenang dengan kenaikan lebih dari 60 persen sepanjang tahun.
Kenaikan ini tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian kebijakan dagang yang membuat investor global mencari aset pelindung nilai.
Saat risiko geopolitik dan tarif meningkat, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai penyimpan nilai.
Situasi tersebut berbeda dengan minyak. Komoditas energi ini justru mengalami tekanan berat akibat melambatnya aktivitas perdagangan internasional.
Hambatan tarif membuat arus logistik global tidak seaktif sebelumnya, sehingga permintaan energi ikut menyusut.
Di saat yang sama, pasokan minyak global relatif stabil, bahkan meningkat dari produsen non-OPEC, yang semakin menekan harga.
Bitcoin sepanjang 2025 berada dalam posisi yang unik.
Sebagai aset yang kerap disebut lindung nilai alternatif, kripto seharusnya diuntungkan oleh ketidakpastian ekonomi.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kebijakan tarif turut menguras likuiditas pasar, membuat aliran dana ke aset berisiko menjadi lebih selektif.
Inflasi di Amerika Serikat memang tidak melonjak tajam, tetapi tetap bertahan pada level yang membuat kebijakan moneter cenderung ketat.
Kondisi ini membatasi ruang gerak investor untuk mengambil risiko besar.
Akibatnya, Bitcoin tidak jatuh sedalam minyak, tetapi juga gagal mengikuti reli emas.
Sepanjang tahun, pergerakannya cenderung mendatar dengan fase konsolidasi yang panjang.
Menariknya, di saat harga kripto bergerak terbatas, justru terjadi aksi pembelian besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan yang menjadikan aset digital sebagai cadangan keuangan.
Sepanjang 2025, kelompok ini mengalokasikan dana hampir 50 miliar dolar AS untuk membeli Bitcoin dan Ethereum.
Sebagian besar pembelian tersebut dilakukan pada paruh kedua tahun, saat pasar masih berada dalam tekanan.
Total kepemilikan aset digital oleh perusahaan-perusahaan ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan keyakinan jangka panjang terhadap kripto meski kondisi jangka pendek belum mendukung.
Strategi ini menunjukkan bahwa pelaku institusional lebih fokus pada pengamanan pasokan daripada pergerakan harga sesaat.
Akumulasi di fase lemah membuat kepemilikan Bitcoin dan Ethereum semakin terkonsentrasi pada investor dengan daya tahan tinggi, sekaligus mengurangi jumlah aset yang beredar bebas di pasar.
Kenaikan tarif sejatinya bertindak seperti beban tambahan bagi ekonomi domestik, namun efeknya tidak langsung terasa ke konsumen.
Biaya tambahan tersebut diserap secara bertahap oleh importir dan pelaku usaha ritel.
Alhasil, tekanan inflasi terlihat terkendali di data utama, meskipun daya beli masyarakat perlahan tergerus.
Situasi ini menciptakan kondisi “tekanan perlahan” di pasar keuangan. Investor menjadi lebih berhati-hati, namun tidak panik.
Pola inilah yang menjelaskan mengapa pasar kripto cenderung bergerak menyamping sepanjang tahun, bukan mengalami kejatuhan tajam.
Secara keseluruhan, 2025 menjadi periode pengetatan bagi aset kripto.
Tarif global menguntungkan emas, membebani minyak, dan menunda momentum Bitcoin dengan cara menyedot likuiditas.
Namun di balik pergerakan harga yang relatif tenang, fondasi pasar justru mengalami perubahan signifikan.
Memasuki 2026, pasar kripto berada dalam kondisi pasokan yang lebih ketat, kepemilikan yang lebih terkonsolidasi, serta potensi pertumbuhan yang terbuka ketika tekanan likuiditas mulai mereda.
Jika hambatan tarif tidak lagi meningkat dan tekanan jual berkurang, Bitcoin berpeluang kembali menemukan momentumnya di fase berikutnya.

