Swap USDT Rp830 Miliar Berujung Kerugian Fantastis, Transaksi Whale Ini Jadi Sorotan Komunitas Kripto
![]() |
| Swap USDT Rp830 Miliar berpotensi mengalami kerugian (Dok. Unsplash) |
CariUang – Dunia kripto kembali digegerkan oleh sebuah transaksi bernilai sangat besar yang berakhir dengan hasil yang tidak sebanding.
Seorang investor besar atau whale dilaporkan menukar puluhan juta dolar stablecoin, namun hanya memperoleh token dengan nilai yang sangat kecil.
Kejadian ini segera menarik perhatian banyak pelaku pasar kripto. Sebagian menganggapnya sebagai kesalahan teknis akibat slippage yang terlalu tinggi saat melakukan pertukaran aset.
Namun, tidak sedikit pula yang menduga adanya kemungkinan lain di balik transaksi yang terlihat tidak wajar tersebut.
Berdasarkan informasi yang beredar di komunitas kripto, sebuah dompet digital baru menerima dana sekitar US$50,4 juta dalam bentuk USDT dari salah satu bursa kripto besar sekitar tiga minggu sebelumnya.
Setelah dana masuk, pemilik wallet tersebut melakukan transaksi penukaran aset di jaringan Ethereum dengan tujuan membeli token DeFi AAVE.
Proses swap tersebut dilakukan melalui platform CoW Protocol dengan jalur likuiditas yang mengarah ke Sushiswap. Namun hasil yang diterima jauh di bawah ekspektasi.
Alih-alih mendapatkan AAVE senilai puluhan juta dolar, wallet tersebut hanya memperoleh sekitar 324 hingga 327 token AAVE dengan estimasi nilai sekitar US$36 ribu.
Jika dihitung berdasarkan jumlah dana yang digunakan, harga yang secara efektif dibayar mencapai sekitar US$154 ribu untuk setiap token AAVE. Nilai tersebut sangat jauh dari harga pasar normal.
Pendiri Aave, Stani Kulechov, mengungkapkan bahwa sistem sebenarnya telah memberikan peringatan kepada pengguna sebelum transaksi diproses.
“Mengingat ukuran order tunggal yang sangat besar, antarmuka Aave memberikan peringatan kepada pengguna tentang slippage yang sangat tinggi dan meminta konfirmasi,” tulisnya di X, Jumat (13/03/2026).
Ia menjelaskan bahwa pengguna tetap memilih melanjutkan transaksi setelah menyetujui peringatan risiko slippage yang muncul di layar.
Tidak lama setelah transaksi tersebut masuk ke blockchain, sebuah bot MEV diketahui segera memanfaatkan kondisi likuiditas yang tidak seimbang pada pool yang sama.
Bot tersebut dilaporkan menggunakan skema flash loan untuk meminjam sekitar US$29 juta dalam bentuk WETH dari platform DeFi Morpho.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli token AAVE dari pasar lain dengan harga normal.
Token yang dibeli tersebut lalu dijual kembali ke pool Sushiswap yang sebelumnya menerima transaksi besar dari whale tadi.
Strategi ini menghasilkan keuntungan yang sangat besar.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian transaksi dan mengembalikan pinjaman flash loan, bot tersebut diperkirakan mengantongi profit sekitar US$9,9 juta.
Meski mekanisme eksploitasi likuiditas seperti ini sering terjadi dalam ekosistem DeFi, sebagian pengamat menilai kejadian ini terlalu aneh untuk dianggap sebagai kesalahan biasa.
Beberapa analis bahkan menyebut kemungkinan adanya skenario lain, termasuk dugaan praktik pencucian dana melalui mekanisme MEV.
“Tidak ada yang secara tidak sengaja menukar US$50 juta ke pool dengan likuiditas hanya US$36 ribu,” tulis akun X bernama Vadim, Jumat (13/03/2026).
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bagi para pengguna DeFi untuk selalu memperhatikan risiko slippage, ukuran likuiditas pool, serta mekanisme perdagangan otomatis yang dapat dimanfaatkan oleh bot di jaringan blockchain.
.jpeg)
