Kesalahan Sepele Berujung Fatal, Pengguna Kripto Kehilangan USD 62 Juta Akibat Salah Alamat dan Phishing
![]() |
| Banyak orang menjadi krovan penipuan crypto (Dok. Unsplash) |
CariUang - Kesalahan kecil dalam transaksi kripto kembali memakan korban dengan nilai kerugian fantastis. Sepanjang Januari 2026, dua insiden berbeda menyebabkan pengguna kehilangan dana hingga USD 62 juta atau setara ratusan miliar rupiah.
Kerugian tersebut terjadi akibat salah menyalin alamat wallet serta meningkatnya serangan phishing yang menargetkan pemilik aset digital.
Laporan dari platform keamanan Web3, Scam Sniffer, mengungkapkan bahwa seorang pengguna kehilangan sekitar USD 12,25 juta setelah mengirim dana ke alamat wallet yang keliru.
Insiden serupa sebelumnya juga terjadi pada Desember dengan kerugian lebih besar, mencapai USD 50 juta. K
Kasus ini menjadi bukti bahwa faktor human error masih menjadi celah utama dalam dunia kripto.
Meski teknologi blockchain dikenal memiliki sistem keamanan tinggi, sifat transaksinya yang tidak dapat dibatalkan membuat kesalahan sekecil apa pun berpotensi berujung fatal.
Sekali dana terkirim ke alamat yang salah, hampir tidak ada cara untuk memulihkannya.
Selain kesalahan penyalinan alamat, Scam Sniffer juga mencatat lonjakan tajam pada serangan signature phishing sepanjang Januari.
Dana yang berhasil dicuri melalui metode ini mencapai USD 6,27 juta dari 4.741 dompet korban, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Pencurian terbesar terjadi melalui skema izin transaksi tertentu yang dimanfaatkan penyerang untuk menguras token korban.
Dalam salah satu kasus, dana senilai USD 3,02 juta dari token SLVon dan XAUt berhasil dicuri. Sementara itu, sekitar USD 1,08 juta lainnya raib dari token aEthLBTC dengan metode serupa.
Menariknya, sebagian besar kerugian akibat phishing ternyata berasal dari aktivitas hanya dua dompet penyerang.
Keduanya diduga menjalankan operasi terorganisir dan menyumbang sekitar 65 persen dari total dana yang berhasil dicuri.
Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah address poisoning.
Dalam teknik ini, pelaku mengirim transaksi kecil dari alamat wallet yang tampilannya sangat mirip dengan alamat asli korban.
Ketika korban melihat riwayat transaksi dan menyalin alamat tersebut, mereka tanpa sadar justru mengirim dana ke alamat milik penipu.
Serangan ini sering dikombinasikan dengan phishing tanda tangan digital. Korban yang tidak teliti bisa saja menyetujui akses berbahaya yang memungkinkan pelaku memindahkan aset kapan saja di kemudian hari.
Tren ini menjadi peringatan serius bagi para pengguna kripto untuk lebih berhati-hati.
Di tengah meningkatnya aktivitas penipuan digital, kelengahan sekecil apa pun dapat berujung pada kerugian besar dalam hitungan detik.

