Narasi Cepat Kaya di Dunia Kripto Disorot, GP Ansor Kritik Model Edukasi Akademi Crypto
![]() |
| Ansor soroti narasi kaya cepat dari kripto (Dok. Unsplash) |
CariUang - Wacana mengenai kekayaan instan kembali mengemuka di ruang publik seiring maraknya kelas dan pelatihan investasi kripto yang menjanjikan kesuksesan finansial dalam waktu singkat.
Balutan istilah edukasi, pendampingan, hingga metode eksklusif kerap membuat janji tersebut tampak rasional dan meyakinkan bagi sebagian masyarakat.
Namun, di balik daya tarik itu, muncul perdebatan serius mengenai substansi pembelajaran, risiko kerugian, serta dampak jangka panjang bagi para pesertanya.
Dunia aset kripto selama ini kerap dipersepsikan sebagai jalur alternatif untuk mencapai kebebasan finansial.
Persepsi tersebut diperkuat oleh figur-figur publik yang menampilkan gaya hidup mewah, seolah keberhasilan dapat diraih dengan cepat asalkan mengikuti metode tertentu.
Fenomena inilah yang kemudian menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan.
GP Ansor secara terbuka menyampaikan kritik terhadap model pendidikan kripto yang dinilai lebih menonjolkan imajinasi kekayaan dibandingkan proses pembelajaran yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam unggahan di akun Instagram resminya pada Jumat (16/01/2026), GP Ansor menilai pendekatan semacam itu berpotensi menyesatkan publik.
“Dan pada akhirnya, seperti halnya Akademi Crypto atau kelas eksklusif, mungkin juga padanan lain yang digunakan dengan makna sama, tidak akan pernah melahirkan kepakaran yang sungguh. Ia hanya akan menyajikan dua menu pilihan, berhasil atau justru rugi terkucil,” tulis GP Ansor, merujuk pada polemik kelas kripto yang dibangun Timothy Ronald.
Lebih lanjut, GP Ansor menyoroti pola pendidikan yang dinilai tidak mendorong kemandirian berpikir.
Peserta kelas disebut cenderung diarahkan untuk mengikuti patron figur tertentu, mulai dari analisis pasar hingga pengambilan keputusan investasi.
Kondisi ini dianggap berisiko mengikis kemampuan berpikir kritis, yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam dunia pendidikan dan investasi.
Organisasi tersebut juga mengingatkan bahaya mentalitas instan yang ditanamkan melalui narasi cepat kaya.
Ketergantungan pada sinyal atau arahan tanpa pemahaman mendalam dinilai dapat melahirkan sikap toksik, baik dalam konteks investasi maupun proses belajar secara umum.
Kritik tersebut semakin relevan setelah muncul kesaksian dari pihak yang mengaku menjadi korban.
Salah satu pengakuan datang dari Younger, yang menyebut awal ketertarikannya bermula dari konten media sosial yang menampilkan kemewahan dan kesuksesan di usia muda.
Ia mengungkapkan bahwa unggahan Instagram yang memamerkan keberhasilan trading kripto, koleksi mobil mahal, serta citra hidup serba cepat dan mewah menjadi pemicu utama ketertarikannya untuk mengikuti kelas tersebut.
“Nah saya melihat dia dari Instagram. Dari cara dia flexing segala macam, kaya dari kripto cepat, terus bisa beli mobil mewah dalam usia muda. Nah itu saya tergiur,” ujar Younger di Polda Metro Jaya, Selasa (13/01/2026).
Pengakuan tersebut memperlihatkan bagaimana narasi visual dan simbol kesuksesan dapat membentuk ekspektasi berlebihan di kalangan masyarakat, khususnya investor pemula.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa literasi finansial dan sikap kritis tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi tawaran investasi, terutama yang menjanjikan hasil besar dalam waktu singkat.
Perdebatan mengenai model edukasi kripto ini pun membuka ruang diskusi lebih luas tentang batas antara edukasi, pemasaran, dan tanggung jawab moral kepada publik.
Hingga kini, polemik tersebut masih terus bergulir dan menjadi perhatian banyak pihak.

