Penundaan RUU Struktur Pasar Kripto AS Picu Perdebatan Baru di Kalangan DeFi
![]() |
| Penundaan RUU pasar kripto (Dok. Unsplash) |
CariUang - Upaya membentuk kerangka regulasi pasar kripto yang menyeluruh di Amerika Serikat kembali tersendat.
Proses legislasi yang sempat diharapkan mampu memberi kepastian hukum justru terhenti setelah dukungan dari Coinbase ditarik hanya beberapa jam sebelum sidang penting di Kongres dibatalkan.
Situasi ini memicu diskusi luas di industri aset digital, khususnya di sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi.
Bagi sebagian pelaku DeFi, tertundanya pembahasan RUU tersebut tidak serta-merta dipandang sebagai kemunduran.
Sejumlah tokoh justru menilai jeda ini membuka ruang untuk menyusun ulang arah kebijakan yang lebih seimbang dan tidak menekan inovasi.
Pendiri Ether.fi, Mike Silagadze, termasuk yang melihat penundaan ini secara positif.
Menurutnya, rancangan undang-undang dalam bentuk sebelumnya justru berpotensi menimbulkan lebih banyak dampak negatif bagi ekosistem kripto.
“Saya tidak terlalu khawatir tentang hal itu — saya sebenarnya menganggapnya positif, karena RUU tersebut dalam bentuknya yang ada sangat buruk untuk crypto,” kata Silagadze kepada CoinDesk melalui telegram.
Ia menilai rancangan tersebut berisiko menekan potensi imbal hasil kepemilikan stablecoin serta membatasi ruang gerak DeFi secara signifikan.
Meski begitu, Silagadze tetap optimistis akan adanya perbaikan di masa depan dan berharap “versi yang lebih baik akhirnya akan kembali ke meja perundingan.”
Pandangan serupa juga disampaikan kalangan hukum di industri kripto.
Bill Hughes, penasihat senior sekaligus direktur urusan regulasi global di Consensys, menilai penundaan ini lebih mencerminkan dinamika tawar-menawar ketimbang kegagalan proses legislasi.
“Para pihak yang mendorong pengawasan dan kontrol pemerintah yang lebih ketat membutuhkan RUU ini lebih daripada DeFi, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Hughes.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menjadi pengingat bagi para pembuat kebijakan mengenai “apa yang akan mereka kehilangan jika tidak ada langkah yang diambil.” Menurut Hughes, situasi ini dapat memengaruhi pembahasan lanjutan agar pihak yang menginginkan pengawasan ketat menjadi “kurang cenderung untuk menuntut hal-hal yang memaksa kami untuk mundur.”
Dari sudut pandang pelaku industri besar, penundaan ini juga memiliki arti strategis. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyampaikan bahwa meski secara kasat mata keterlambatan RUU tampak merugikan, langkah tersebut justru menghindarkan DeFi dari regulasi yang terlalu mengekang dalam jangka pendek. Ia menilai peluang untuk menghadirkan kerangka yang lebih ramah inovasi tetap terbuka melalui rancangan revisi.
Keputusan Coinbase menarik dukungan terhadap RUU tersebut turut menjadi sinyal penting.
Langkah itu menunjukkan bahwa bahkan pemain besar di industri kripto AS pun siap mundur jika aturan yang diusulkan dinilai berpotensi menghambat perkembangan teknologi.
CEO Coinbase, Brian Armstrong, diketahui hadir di Gedung DPR pada Kamis, yang mengindikasikan bahwa penarikan dukungan bersifat sementara hingga rancangan baru tersedia.
Sementara itu, Ketua Komite Perbankan Senat AS, Tim Scott, menyatakan bahwa dialog masih terus berlangsung.
Ia menegaskan telah “berbicara dengan para pemimpin di seluruh industri kripto, sektor keuangan, serta rekan-rekan Demokrat dan Republik saya, dan semua pihak tetap berada di meja perundingan bekerja dengan itikad baik.”
Hughes kembali menekankan bahwa meskipun rancangan undang-undang belum ideal, industri kripto masih memiliki posisi tawar yang kuat.
“Para sponsor dan industri akan meninggalkan legislasi struktur pasar daripada menerima regulasi berlebihan terhadap teknologi terdesentralisasi,” ujarnya.
Ia menilai penundaan ini menyampaikan pesan tegas kepada para pembuat kebijakan yang bersikap keras bahwa “mereka membutuhkan undang-undang ini lebih daripada industri.”

