Saham Berguguran Imbas Sentimen MSCI, CIO Danantara Ungkap Hal yang Wajib Dicek
![]() |
| Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir (Dok. Ist) |
CariUang.or.id - Penurunan harga saham sering dianggap sebagai kesempatan untuk membeli aset dengan harga lebih murah. Namun, investor perlu berhati-hati agar tidak mengambil keputusan hanya karena melihat harga saham sedang melemah.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengingatkan pentingnya melihat kondisi bisnis perusahaan sebelum membeli saham.
Menurutnya, harga yang turun belum tentu menunjukkan bahwa sebuah emiten layak dijadikan pilihan investasi.
Pesan tersebut disampaikan di tengah tekanan pasar saham Indonesia akibat rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengkaji perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Sentimen tersebut turut memengaruhi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini membuat investor perlu lebih cermat dalam menentukan saham yang berpotensi memberikan keuntungan.
Pandu menyarankan investor untuk melihat sejumlah indikator penting sebelum mengambil keputusan investasi.
Beberapa di antaranya meliputi kemampuan perusahaan mencetak laba, perkembangan bisnis, arus kas, jumlah utang, serta kualitas tata kelola perusahaan.
Berbagai aspek tersebut dapat membantu investor memahami kondisi perusahaan secara lebih menyeluruh. Dengan begitu, penurunan harga saham bisa dinilai berdasarkan kualitas bisnis, bukan sekadar pergerakan pasar.
Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan profitabilitas dan valuasi saham secara bersamaan.
"Jadi ada profitabilitas yang kuat dengan valuasi yang menarik untuk dicermati," ujar Pandu, dikutip dari unggahan media sosial Instagram pribadinya Jumat, 23 Oktober 2026.
Berdasarkan data yang menjadi acuannya, terdapat 146 emiten dengan pendapatan tahunan lebih dari Rp5 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 perusahaan tercatat memiliki tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) di atas 15 persen.
ROE merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal pemegang saham.
Semakin baik rasio ini, semakin besar kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modalnya untuk mencetak keuntungan, meskipun tetap perlu dibandingkan dengan kondisi bisnis dan sektor terkait.
Selain menyoroti profitabilitas perusahaan, Pandu turut melihat peluang investasi pada sektor perbankan dan konsumsi.
Menurutnya, ada perusahaan di kedua sektor tersebut yang memiliki ROE sekitar 20 persen. Di sisi lain, rasio harga saham terhadap laba atau price to earnings ratio (PE) perusahaan tersebut berada di bawah 10 kali.
PE digunakan untuk membandingkan harga saham dengan laba yang dihasilkan perusahaan. Rasio yang rendah dapat menjadi bahan pertimbangan investor, tetapi tidak otomatis menandakan saham tersebut murah atau memiliki prospek yang baik.
Karena itu, investor tetap perlu memeriksa kondisi keuangan, prospek pertumbuhan, dan risiko bisnis sebelum menentukan pilihan.
Pandu juga mengingatkan bahwa peluang investasi tidak hanya tersedia pada satu sektor tertentu. Penilaian terhadap kualitas perusahaan dan harga saham harus dilakukan secara bersamaan.
"Peluangnya juga tersebar di berbagai sektor. Jadi intinya nih, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersamaan, bukan hanya sentimen pasar," ucapnya.
Peringatan Pandu muncul ketika rencana MSCI mengkaji perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi perhatian pelaku pasar.
Perubahan status dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia.
Ketidakpastian terkait rencana tersebut juga menjadi salah satu faktor yang dicermati dalam pergerakan harga saham.
Dalam situasi seperti ini, investor perlu menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada sentimen sesaat. Penurunan harga sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perusahaan secara lebih mendalam.
Dengan memperhatikan fundamental, valuasi, dan risiko bisnis, investor dapat membuat keputusan yang lebih terukur di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

