IHSG Ambruk 11,57 Persen, Terburuk Sejak Krisis Moneter 1998
![]() |
| Ilustrasi IHSG yang turun tajam (Dok. Ist) |
CariUang.or.id - Pasar saham Indonesia mengalami guncangan besar pada Jumat, 16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam hingga mencatatkan salah satu penurunan harian terburuk dalam hampir tiga dekade.
Kejatuhan ini mengingatkan pelaku pasar pada krisis moneter 1998. Saat itu, perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berat yang turut mengguncang nilai tukar rupiah dan pasar saham.
Pada perdagangan kali ini, IHSG ditutup melemah 11,57 persen ke kisaran 5.185 poin. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Januari 1998.
Tekanan besar yang terjadi di pasar saham tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap masa depan pasar modal Indonesia di mata dunia.
Salah satu faktor yang membebani IHSG adalah langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks saham global, yang membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
MSCI mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari *Emerging Market* menjadi *Standalone Market*. Perubahan ini dapat memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks yang menjadi acuan investor internasional.
Selama ini, status *Emerging Market* membuat pasar saham Indonesia masuk dalam kelompok negara berkembang yang menjadi tujuan investasi sejumlah pengelola dana global.
Jika perubahan klasifikasi tersebut benar-benar diterapkan, saham Indonesia berpotensi kehilangan tempat dalam sejumlah indeks MSCI.
Kondisi ini dapat mendorong investor yang mengikuti indeks tersebut untuk menyesuaikan portofolio mereka.
Kekhawatiran pasar juga berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan yang terkoordinasi, serta penegakan aturan di pasar modal.
Berbagai persoalan tersebut membuat investor mempertanyakan tingkat keterbukaan dan kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia.
Besarnya tekanan jual pada 16 Oktober 2026 menunjukkan bahwa kekhawatiran investor tidak hanya berdampak pada beberapa saham, tetapi juga menyeret pergerakan pasar secara keseluruhan.
Penurunan IHSG kali ini bahkan melampaui pelemahan harian yang terjadi saat krisis keuangan global 2008.
Pada 8 Oktober 2008, IHSG pernah terkoreksi 10,38 persen ketika pasar keuangan dunia diguncang krisis yang dipicu masalah di sektor keuangan Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada 14 Oktober 2002, indeks saham Indonesia juga merosot 10,36 persen. Pelemahan tersebut terjadi setelah tragedi Bom Bali yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan dan kondisi perekonomian nasional.
Meski demikian, setiap peristiwa memiliki latar belakang berbeda. Krisis 1998 berkaitan dengan gejolak moneter dan persoalan ekonomi yang luas, sedangkan tekanan pada Oktober 2026 dipengaruhi kekhawatiran terhadap klasifikasi dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pergerakan pasar saham tidak hanya dipengaruhi kinerja perusahaan dan kondisi ekonomi, tetapi juga tingkat kepercayaan investor.
Kejelasan aturan, keterbukaan informasi, serta pengawasan yang konsisten menjadi sejumlah aspek penting untuk menjaga daya tarik pasar modal Indonesia.
Jika kekhawatiran terhadap tata kelola tidak ditangani dengan baik, minat investor asing berpotensi melemah. Sebaliknya, perbaikan yang nyata dapat membantu memulihkan keyakinan pelaku pasar terhadap prospek investasi di Indonesia.
Ke depan, perkembangan pembahasan MSCI dan langkah otoritas pasar modal akan menjadi perhatian investor. Keputusan terkait klasifikasi pasar Indonesia berpotensi memengaruhi arah investasi dan pergerakan saham domestik.
Karena itu, penurunan tajam IHSG pada Oktober 2026 bukan sekadar catatan buruk dalam sejarah bursa. Peristiwa ini juga menjadi ujian bagi Indonesia untuk memperkuat transparansi, tata kelola, dan kepercayaan terhadap pasar modalnya.

