Ancaman Baru untuk Dompet Crypto, Teknologi Kuantum Disebut Bisa Bongkar Sistem Keamanan
![]() |
| Dompet Crypto menghadapi tekanan (Dok. Unsplash) |
CariUang - Perkembangan teknologi komputasi kuantum mulai memunculkan kekhawatiran baru di dunia aset digital.
Laporan terbaru dari Google melalui divisi Quantum AI mengungkap potensi kerentanan serius pada sistem kriptografi yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan dompet crypto.
Dalam whitepaper tersebut, Google menyoroti bahwa algoritma elliptic curve cryptography (ECC) 256-bit, yang digunakan secara luas untuk melindungi aset digital seperti Bitcoin, berpotensi dapat ditembus oleh komputer kuantum dengan kebutuhan sumber daya yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Jika sebelumnya dibutuhkan kapasitas yang sangat besar, kini para peneliti memperkirakan bahwa pemecahan masalah kriptografi berbasis ECC, khususnya ECDLP-256, dapat dilakukan dengan kurang dari 1.450 logical qubits dan di bawah 500.000 physical qubits.
Dengan dukungan sistem yang stabil, proses tersebut bahkan disebut bisa berlangsung dalam hitungan menit.
Meski begitu, Google menegaskan bahwa teknologi dengan kemampuan seperti ini belum tersedia saat ini.
Namun arah perkembangan komputasi kuantum dinilai semakin mendekati titik tersebut.
Untuk memahami ancaman ini, sistem keamanan dompet crypto bisa dianalogikan seperti brankas dengan kunci yang sangat kompleks.
Selama ini, meskipun bentuk “gembok” atau public key bisa dilihat publik, kunci utamanya atau private key hampir mustahil ditebak menggunakan komputer biasa.
Keamanan tersebut bergantung pada ECC yang telah terbukti kuat menghadapi serangan komputasi klasik.
Namun situasinya berubah dengan hadirnya komputasi kuantum.
Dengan memanfaatkan algoritma khusus seperti Shor’s Algorithm, komputer kuantum tidak perlu lagi menebak kombinasi secara acak.
Sebaliknya, ia dapat langsung menghitung kunci privat dari struktur matematis yang tersedia secara publik.
Dalam kondisi tertentu, misalnya saat transaksi crypto dikirim dan public key terekspos, penyerang berpotensi mengekstrak kunci tersebut dengan cepat.
Hal ini memungkinkan mereka memindahkan dana ke alamat lain sebelum transaksi asli mendapatkan konfirmasi di jaringan.
Walau terdengar mengkhawatirkan, ancaman ini belum bersifat langsung.
Saat ini, komputer kuantum masih berada pada tahap awal pengembangan dengan jumlah qubit yang terbatas dan tingkat stabilitas yang belum memadai.
Para ahli memperkirakan bahwa untuk benar-benar mampu menyerang sistem seperti Bitcoin, dibutuhkan ratusan ribu qubit yang dilengkapi dengan teknologi koreksi kesalahan (error correction) yang canggih.
Dalam proyeksi yang berkembang, risiko keamanan ini diperkirakan akan muncul secara bertahap.
Hingga sekitar tahun 2030, ancaman dinilai masih rendah karena keterbatasan teknologi.
Namun periode 2030 hingga 2035 disebut sebagai fase kritis, di mana eksperimen mulai menunjukkan potensi memecahkan sistem kriptografi tertentu.
Adapun ancaman nyata baru diperkirakan muncul setelah 2035, ketika teknologi kuantum mencapai skala dan stabilitas yang dibutuhkan.
Selain risiko langsung, terdapat skenario lain yang tak kalah berbahaya, yaitu “harvest now, decrypt later.”
Dalam skenario ini, data yang saat ini masih aman seperti alamat wallet atau transaksi dikumpulkan oleh pihak tertentu untuk kemudian dipecahkan di masa depan saat teknologi kuantum sudah matang.
Artinya, meskipun sistem keamanan saat ini masih terlihat kuat, data yang terekspos hari ini tetap berpotensi menjadi celah di masa mendatang.

