Boikot RANS Carnival Makin Ramai, Warganet Justru Ramai-ramai Borong Produk UMKM
![]() |
| RANS Carnival yang menuai sorotan (Dok. Ist) |
CariUang.or.id - Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memilih membatalkan keikutsertaan dalam RANS Carnival yang digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.
Keputusan tersebut muncul di tengah ramainya penolakan masyarakat terhadap penyelenggaraan acara tersebut.
Situasi ini cukup berat bagi para pedagang. Sebab, sebagian dari mereka sudah mengeluarkan biaya produksi, menyiapkan barang dagangan, hingga mengangkut stok ke lokasi acara.
Bahkan, ada pelaku UMKM yang telah bekerja sejak tengah malam demi memastikan seluruh kebutuhan berjualan siap sebelum acara dimulai.
Meski begitu, keputusan untuk mundur justru mendapat banyak dukungan dari pengguna media sosial.
Warganet ramai-ramai mengajak masyarakat membeli produk para pedagang agar barang yang telanjur diproduksi tidak terbuang sia-sia.
Cerita mengenai persiapan yang berujung pembatalan tersebut salah satunya dibagikan melalui akun Threads @obs.co.id.
Dalam unggahannya, mereka menceritakan pengalaman pertama mengikuti sebuah acara berskala besar yang membutuhkan persiapan cukup panjang.
Berbagai kebutuhan dagangan sudah disiapkan jauh sebelum pelaksanaan acara. Bahkan, proses pemindahan barang ke lokasi dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Namun, perkembangan situasi membuat mereka harus mempertimbangkan kembali keputusan untuk berjualan di acara tersebut.
Pengalaman itu menjadi hal yang cukup berat, terlebih karena merupakan kesempatan pertama mereka mengikuti kegiatan besar seperti RANS Carnival.
Mereka mengaku sudah mencurahkan banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mempersiapkan keikutsertaan dalam acara tersebut.
Mulai dari proses produksi hingga menyiapkan persediaan barang telah dilakukan. Namun, setelah melihat kondisi yang berkembang, mereka akhirnya memilih tidak melanjutkan partisipasi.
Bagi pelaku UMKM, keputusan tersebut tentu memiliki konsekuensi tersendiri. Mereka bukan hanya kehilangan kesempatan mendapatkan pembeli di acara besar, tetapi juga harus mencari cara agar modal yang sudah dikeluarkan tidak menjadi kerugian.
Keputusan untuk tidak berjualan di RANS Carnival juga disampaikan oleh Roti Gembong Gedhe melalui akun Threads resminya.
Sebelumnya, usaha kuliner tersebut telah terdaftar sebagai salah satu tenant dalam acara yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo.
Namun, setelah melihat perkembangan situasi di Yogyakarta, mereka memutuskan untuk membatalkan keikutsertaan.
Meski tidak jadi membuka lapak di lokasi acara, Roti Gembong Gedhe tetap berupaya menjual produk yang sudah dipersiapkan.
Mereka mengarahkan pelanggan untuk membeli langsung melalui beberapa cabang, yaitu Tajem, Jalan Solo, dan Gejayan.
Informasi tersebut kemudian mendapat perhatian warganet. Banyak pengguna media sosial memberikan dukungan sekaligus mengajak masyarakat membeli produk Roti Gembong Gedhe.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap pelaku usaha yang sudah telanjur mengeluarkan biaya untuk mengikuti acara.
Sejumlah pelaku UMKM lainnya mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam RANS Carnival semula bertujuan memperluas pasar dan memperkenalkan merek kepada calon pelanggan.
Namun, situasi penolakan yang berkembang di tengah masyarakat Yogyakarta membuat mereka memilih mengambil langkah berbeda.
Mereka memutuskan mundur sebagai bentuk penghormatan terhadap aspirasi masyarakat setempat.
Setelah membatalkan keikutsertaan, para pedagang berharap masyarakat tetap bersedia membeli produk yang sudah disiapkan.
Salah satu cara yang ditempuh adalah membuka pemesanan secara langsung melalui WhatsApp. Dengan begitu, calon pembeli tetap bisa mendapatkan produk tanpa harus datang ke lokasi acara.
Cerita tersebut kemudian ramai diperbincangkan di Threads. Salah satu pengguna, Salsa Erwina Hutagulung melalui akun @salsaer, turut menyampaikan dukungan kepada para pelaku UMKM.
Ia mengajak masyarakat untuk membeli dagangan mereka sebagai bentuk bantuan kepada usaha yang sudah mengeluarkan modal dan tenaga.
Respons positif juga terlihat dari sejumlah warganet yang menyatakan tertarik melakukan pembelian secara daring.
Bahkan, ada yang berniat memesan produk dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya.l
Ramainya penolakan terhadap RANS Carnival di Yogyakarta ternyata turut memunculkan gerakan solidaritas bagi pelaku UMKM.
Di tengah keputusan sejumlah pedagang untuk mundur, masyarakat justru berusaha membantu mereka melalui pembelian produk yang sudah telanjur diproduksi.
Dukungan tersebut tidak hanya berupa komentar positif di media sosial, tetapi juga diwujudkan melalui transaksi langsung.
Para pedagang pun mulai mengandalkan berbagai saluran penjualan alternatif, seperti gerai makanan, pemesanan WhatsApp, hingga penjualan secara daring.
Bagi UMKM, langkah tersebut cukup penting untuk menjaga perputaran usaha di tengah batalnya kesempatan berjualan.
Melalui dukungan masyarakat, stok yang sudah disiapkan diharapkan tetap terserap pasar sehingga potensi kerugian dapat ditekan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa di tengah kontroversi sebuah acara, kepedulian terhadap pelaku usaha kecil tetap bisa tumbuh melalui aksi sederhana, salah satunya dengan membeli produk mereka.

