Bikin Pedagang Menjerit! Harga Tepung Tapioka di Surabaya Naik hingga 80 Persen
![]() |
| Tepung tapioka yang harganya melonjak (Dok. Ist) |
CariUang.or.id - Harga tepung tapioka di sejumlah pasar tradisional Surabaya, Jawa Timur, mengalami kenaikan cukup tajam. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, harganya bahkan melonjak hingga sekitar 80 persen.
Kondisi tersebut membuat para pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli. Kenaikan harga bahan pangan dinilai turut memengaruhi daya beli masyarakat sehingga aktivitas jual beli di pasar menjadi lebih sepi.
Berdasarkan pantauan di Pasar Wonokromo, Pasar Pucang, dan Pasar Soponyono, harga tepung tapioka saat ini berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per kilogram.
Sebelumnya, komoditas tersebut masih dijual dengan harga sekitar Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per kilogram. Artinya, terjadi kenaikan harga yang cukup membebani pedagang maupun konsumen.
Salah seorang pedagang bernama Dewi mengatakan harga tepung tapioka kini hampir menyentuh Rp20 ribu per kilogram.
“Sekarang hampir Rp20 ribu. Biasanya Rp12 ribu, Rp13 ribu,” ujar Dewi dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat 6 November 2026.
Kenaikan harga ternyata tidak hanya terjadi pada tepung tapioka. Sejumlah bahan pangan lain yang dijual di pasar tradisional Surabaya juga mengalami perubahan harga.
Dewi menyebut harga tepung terigu yang sebelumnya Rp9 ribu kini naik menjadi Rp15 ribu per kilogram.
Selain itu, harga kerupuk juga mengalami peningkatan. Komoditas tersebut yang semula dijual Rp95 ribu kini mencapai Rp128 ribu untuk kemasan lima kilogram.
Meski mengalami kenaikan harga, Dewi mengaku belum mengetahui penyebab pasti perubahan harga sejumlah bahan dagangan tersebut.
“Katanya, ya enggak tahu. Enggak tahu, kok tiba-tiba jadi mahal,” katanya.
Mahalnya harga bahan pangan mulai berdampak pada kebiasaan belanja masyarakat. Konsumen kini cenderung mengurangi jumlah pembelian agar pengeluaran tetap terkendali.
Dewi mencontohkan pelanggan yang sebelumnya biasa membeli satu kilogram tepung kini hanya membeli setengah kilogram.
Begitu juga dengan konsumen yang biasanya membeli dua kilogram, sekarang hanya mengambil satu kilogram.
“Biasane belinya satu kilo, jadi setengah kilo. Biasanya dua kilo jadi satu kilo,” tuturnya.
Penurunan jumlah pembelian tersebut ikut memengaruhi pendapatan pedagang. Dewi mengungkapkan bahwa penjualan hariannya kini berkurang hingga sekitar separuh dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Ya sepi. Banyak, berkurang separuh,” ungkapnya.
Situasi pasar yang semakin sepi membuat para pedagang berharap ada perhatian dari pemerintah. Mereka menginginkan harga bahan pangan bisa kembali lebih terjangkau sehingga masyarakat tidak perlu mengurangi jumlah belanja.
Dewi berharap pemerintah dapat membantu mengendalikan kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut.
Menurutnya, harga yang terus meningkat bukan hanya memberatkan konsumen, tetapi juga membuat pedagang kesulitan mempertahankan omzet penjualan.
Jika harga bahan pangan kembali stabil, diharapkan daya beli masyarakat membaik dan kegiatan perdagangan di pasar tradisional Surabaya bisa kembali ramai.

