Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.899 per Dolar AS, Defisit Anggaran Indonesia Meningkat
![]() |
| Ilustrasi rupiah yang menguat tipis (Dok. Ist) |
CariUang.or.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada penutupan perdagangan Jumat (9/10). Berdasarkan data pasar spot, rupiah naik Rp17 atau 0,09% ke level Rp17.899 per dolar AS.
Meski menguat pada akhir pekan, secara mingguan rupiah masih melemah tipis sebesar 0,09% dibandingkan posisi Jumat (2/10), yaitu Rp17.882 per dolar AS.
Sementara itu, kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia juga mengalami penguatan. Pada Jumat (9/10/2026), rupiah Jisdor naik Rp6 atau 0,03% menjadi Rp17.884 per dolar AS.
Secara mingguan, rupiah Jisdor justru menguat sebesar 0,08% dibandingkan posisi Rp17.898 per dolar AS pada Jumat sebelumnya.
Di tengah pergerakan nilai tukar rupiah, kondisi anggaran pemerintah juga menjadi perhatian pasar.
Defisit anggaran Indonesia tercatat mencapai 1,24% dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir September 2026. Angka ini meningkat dibandingkan defisit pada Agustus 2026 yang sebesar 0,94% dari PDB.
Defisit anggaran berpotensi kembali melebar pada kuartal IV-2026. Hal ini diperkirakan terjadi karena belanja pemerintah kemungkinan meningkat menjelang akhir tahun.
Selain itu, harga minyak yang masih tinggi berpotensi mendorong kenaikan belanja energi pemerintah. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap anggaran negara.
Meski demikian, pemerintah masih memiliki batas maksimal defisit anggaran sebesar 3% dari PDB untuk tahun 2026.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga menguat terhadap dolar AS pada Jumat (9/10/2026).
Baht Thailand mencatat penguatan terbesar, yaitu sebesar 0,36%. Selanjutnya, yuan China menguat 0,16% dan ringgit Malaysia naik 0,15%.
Peso Filipina turut menguat 0,11%, sedangkan won Korea Selatan naik 0,08%. Dolar Singapura menguat 0,07% dan rupee India naik 0,05%. Sementara itu, dolar Taiwan menguat 0,04% dan dolar Hong Kong naik 0,01%.
Berbeda dengan mata uang tersebut, yen Jepang justru melemah sebesar 0,28% terhadap dolar AS.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia juga mengalami pelemahan. Pada Jumat (9/10/2026), indeks dolar turun 0,05% ke level 102,09.
Namun, dalam periode satu minggu, indeks dolar masih mencatat penguatan sebesar 0,16%. Meskipun melemah selama dua hari berturut-turut, indeks tersebut tetap bertahan di atas level 102.
Pergerakan dolar AS masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran terhadap inflasi akibat tingginya harga energi.
Selain itu, pelaku pasar turut mencermati hasil pemilihan sela di Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Investor juga memperhatikan kemungkinan penerapan regulasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih ketat di AS. Perkembangan politik dan kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, perkembangan ekonomi global, serta kondisi fiskal dalam negeri.

