Rupiah Kembali Menguat, Ini Sentimen yang Bisa Pengaruhi Kurs Pekan Depan
![]() |
| Ilustrasi rupiah yang kembali melemah (Dok. Ist) |
CariUang.or.id - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pergerakan rupiah pada pekan depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri.
Rupiah spot berakhir di level Rp17.882 per dolar AS pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Posisi tersebut menguat 0,47 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.966 per dolar AS.
Jika dihitung selama sepekan, rupiah spot tercatat menguat 0,12 persen. Penguatan juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang naik 0,22 persen secara harian menjadi Rp17.898 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor domestik yang perlu diperhatikan pasar pada pekan depan.
“Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA),” ujar Ibrahim.
BI sebelumnya memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter.
Dalam kebijakan tersebut, obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi dapat digunakan sebagai underlying operasi moneter.
Menurut Ibrahim, langkah ini memberikan pilihan yang lebih luas bagi perbankan dalam mengelola likuiditas.
Kebijakan tersebut juga dinilai dapat mendukung peningkatan aktivitas perdagangan surat berharga korporasi di pasar keuangan.
Ibrahim menyebut langkah BI tersebut sejalan dengan upaya memperkuat operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar.
Selain pengelolaan likuiditas, suku bunga dan nilai tukar, kebijakan moneter juga diharapkan dapat mendorong perkembangan pasar uang serta pasar valuta asing.
Perluasan instrumen tersebut membuat perbankan memiliki alternatif tambahan untuk mengatur likuiditas.
Di sisi lain, perusahaan penerbit surat berharga berpotensi mendapatkan dukungan terhadap likuiditas dan perdagangan instrumen mereka di pasar sekunder.
Dari pasar global, perhatian investor akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya data nonfarm payrolls atau NFP.
Data NFP menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.
Angka tersebut juga dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Ekonom memperkirakan jumlah tenaga kerja baru di AS pada September mencapai hampir 90.000 orang.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tambahan lapangan kerja pada Agustus yang mencapai 162.000.
Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan masih berada di kisaran 4,1 persen. Ibrahim mengatakan data inflasi AS yang lebih rendah sebelumnya telah membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober ikut menurun.
Pasar disebut kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 26 persen, turun dari 69 persen pada pekan sebelumnya.
Jika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan, peluang kenaikan suku bunga The Fed dapat semakin berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen yang mendukung rupiah karena tekanan dari dolar AS dapat berkurang.
Sebaliknya, apabila data tenaga kerja AS justru lebih kuat dari perkiraan, pasar bisa kembali meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Situasi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak cukup lebar pada perdagangan pekan depan.
Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS. Pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan BI serta respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat.
Dengan demikian, data ketenagakerjaan AS dan arah kebijakan moneter global masih menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor dalam melihat pergerakan rupiah pada pekan depan.

