Ekonomi Indonesia Terancam Masuk Zona Krisis, Ekonom BCA Ungkap Pemicunya
![]() |
| Ekonomi Indonesia disebut terancam (Dok. Ist) |
CariUang.or.id - Perekonomian Indonesia berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar pada semester II-2026. Sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi hingga kondisi keuangan masyarakat.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David E. Sumual, menyoroti sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Beberapa di antaranya adalah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), potensi kenaikan suku bunga global, serta melemahnya daya beli masyarakat.
Untuk menjelaskan risiko tersebut, David menggunakan dua indikator utama, yaitu pergerakan harga komoditas dan indeks dolar AS.
Kedua indikator ini digunakan untuk memetakan kondisi ekonomi Indonesia ke dalam empat zona berdasarkan situasi pasokan global dan likuiditas.
Zona hijau dinilai sebagai kondisi paling menguntungkan bagi Indonesia. Zona ini menggambarkan situasi ketika pasokan global mengetat, sementara likuiditas masih longgar.
Berikutnya, zona biru menunjukkan kondisi pasokan yang ketat bersamaan dengan likuiditas yang mulai mengetat. Meski demikian, kondisi tersebut masih dianggap relatif lebih baik bagi perekonomian Indonesia.
Sementara itu, zona biru tua menggambarkan pasokan global yang lebih longgar dengan likuiditas yang juga longgar. Kondisi ini dinilai cenderung netral bagi Indonesia.
Adapun zona merah menjadi kondisi yang paling perlu diwaspadai. Zona ini terjadi ketika pasokan global melonggar, tetapi likuiditas justru mengetat sehingga tekanan terhadap perekonomian berpotensi meningkat.
Berdasarkan grafik yang dipaparkan David, posisi Indonesia pada periode September 2025 hingga Agustus 2026 masih berada di zona hijau dan biru.
Namun, kondisi tersebut belum menjamin Indonesia akan terhindar dari tekanan ekonomi. Perubahan situasi global berpotensi menggeser posisi Indonesia menuju zona merah.
David memperkirakan kemungkinan tersebut dapat terjadi pada kuartal III atau kuartal IV 2026. Meski begitu, ia menegaskan bahwa waktu pergeseran kondisi ekonomi tersebut belum bisa dipastikan.
"Perkiraan saya mungkin di kuartal III, kuartal IV ini kita masih beredar di sini, tapi ada probabilitas kita pindah ke merah," ujar David dalam acara Business Outlook 2027, Senin (19/10).
Menurut David, zona merah menggambarkan periode ketika tekanan dari luar negeri terhadap perekonomian Indonesia meningkat. Kondisi serupa pernah terjadi saat krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19.
Karena itu, perkembangan ekonomi global perlu terus diperhatikan untuk melihat kemungkinan perubahan risiko yang dapat memengaruhi Indonesia.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian David adalah meningkatnya utang global setelah pandemi Covid-19. Saat itu, berbagai negara menambah pembiayaan untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.
Indonesia juga menerapkan kebijakan burden sharing pada 2020-2022. Kebijakan tersebut dilakukan melalui kerja sama pemerintah dan Bank Indonesia dalam mendukung pembiayaan penanganan pandemi, dengan nilai kumulatif sekitar Rp1.600 triliun.
David menilai ekspansi likuiditas yang terlalu besar berpotensi memicu kenaikan inflasi. Dampak tersebut terlihat di sejumlah negara setelah berbagai kebijakan stimulus diterapkan untuk menopang perekonomian.
Kenaikan inflasi kemudian dapat memengaruhi keputusan bank sentral dalam menentukan arah suku bunga. Jika suku bunga global meningkat, biaya pinjaman berpotensi ikut naik dan membuat pembiayaan menjadi lebih mahal.
Situasi ini dapat berdampak pada Indonesia, terutama jika kondisi keuangan global semakin ketat dan tekanan terhadap nilai tukar meningkat.
Selain persoalan utang, likuiditas, dan suku bunga, David juga menyoroti perkembangan harga minyak dunia serta risiko gangguan pasokan energi.
Perubahan harga energi dapat menambah tekanan terhadap perekonomian, terutama jika kenaikannya mendorong biaya produksi dan distribusi.
Oleh karena itu, kombinasi berbagai faktor tersebut perlu dicermati untuk mengantisipasi risiko ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026.

