Bitcoin Stagnan di Kisaran US$82 Ribu, Tekanan Saham Teknologi dan Harga Minyak jadi Penyebab

Bitcoin Stagnan di Kisaran US$82 Ribu, Tekanan Saham Teknologi dan Harga Minyak jadi Penyebab
Harga Bitcoin menunjukkan pergerakan signifikan (Dok. Ist)


CariUang.or.id - Harga Bitcoin belum menunjukkan pergerakan signifikan pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026. 

Aset kripto terbesar di dunia tersebut masih bertahan di sekitar US$82.000 ketika pasar keuangan menghadapi tekanan dari sektor teknologi dan kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan laporan Investing.com, Bitcoin naik tipis sekitar 0,3% menjadi US$81.970 pada pukul 20.49 WIB. 

Meski mengalami kenaikan kecil, pergerakan harganya masih terbatas dalam rentang US$80.000 hingga US$87.000 yang telah berlangsung selama sebulan terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin belum memiliki dorongan kuat untuk keluar dari rentang perdagangan tersebut. 

Sementara itu, sebagian besar aset kripto lainnya juga bergerak terbatas dan berpotensi mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan sepanjang pekan.

Salah satu faktor yang membayangi pergerakan Bitcoin adalah pelemahan saham teknologi global. Tekanan muncul setelah sejumlah perusahaan teknologi besar di Wall Street melaporkan hasil keuangan yang mengecewakan pasar.

Situasi ini turut memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kemungkinan suku bunga bertahan pada tingkat tinggi.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar saham, tetapi juga merembet ke aset kripto yang pergerakannya kerap berkaitan dengan saham teknologi.

Ketika ketidakpastian meningkat, sebagian investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. 

Akibatnya, Bitcoin dan sejumlah mata uang kripto lainnya kesulitan mencatatkan penguatan yang lebih besar.

Walaupun tekanan pada saham teknologi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda pada Jumat, kerugian selama sepekan masih membebani sentimen pasar.

Pelaku pasar juga mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi lainnya serta agenda pertemuan sejumlah bank sentral utama yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.

Selain sektor teknologi, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian investor. Harga minyak mentah dilaporkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari lima bulan pada Jumat di tengah berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah.

Laporan mengenai kemungkinan dimulainya kembali permusuhan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada November juga menambah kekhawatiran terhadap perkembangan geopolitik.

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Jika inflasi sulit dikendalikan, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

Situasi tersebut dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Oleh karena itu, perkembangan harga minyak dan kebijakan moneter menjadi dua hal yang perlu diperhatikan dalam melihat arah pergerakan pasar kripto.

Di tengah pergerakan harga yang terbatas, produk investasi ETF Bitcoin spot justru menunjukkan perkembangan positif.

Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot membukukan arus dana masuk sebesar US$442,7 juta selama pekan yang berakhir pada 22 Oktober 2026.

Pencapaian tersebut menjadi arus masuk mingguan terbaik sejak akhir September sekaligus mengakhiri periode dua pekan berturut-turut ketika dana keluar dari produk investasi tersebut.

Arus masuk ini menunjukkan adanya permintaan dari investor melalui instrumen ETF Bitcoin. Namun, peningkatan aliran dana tersebut belum mampu mendorong harga Bitcoin keluar dari rentang perdagangan yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir.

Dengan demikian, arus dana masuk ETF belum menjadi jaminan bahwa Bitcoin akan segera mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Pergerakan pasar kripto pada Jumat juga cenderung beragam, meskipun sebagian besar aset digital belum menunjukkan perubahan harga yang berarti.

Ether, mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, diperdagangkan relatif datar di level US$2.413,84. Sementara itu, XRP mengalami penurunan sekitar 0,6%.

Solana dan Cardano juga bergerak mendatar. Di sisi lain, BNB mencatatkan kenaikan sekitar 1,9%.

Pada kelompok memecoin, Dogecoin menguat sekitar 0,8%, sedangkan token TRUMP naik 1,7%.

Perbedaan pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa setiap aset kripto merespons kondisi pasar dengan cara yang berbeda. Meski begitu, sentimen yang masih rapuh membuat pasar secara keseluruhan belum memperlihatkan arah pergerakan yang kuat.

Pergerakan Bitcoin di sekitar US$82.000 memperlihatkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi. 

Tekanan dari saham teknologi, ketidakpastian suku bunga, kenaikan harga minyak, dan situasi geopolitik menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan investor.

Di sisi lain, berakhirnya periode arus keluar ETF Bitcoin dan masuknya dana sebesar US$442,7 juta memberikan sinyal positif dari sisi aliran investasi.

Namun, perkembangan tersebut belum cukup untuk mendorong Bitcoin menembus rentang harga yang telah terbentuk selama sebulan terakhir.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan sektor teknologi, pergerakan harga energi, kebijakan bank sentral, serta arus dana ETF untuk melihat potensi perubahan tren Bitcoin.

Meski demikian, arah harga berikutnya masih belum dapat dipastikan. Investor perlu memperhitungkan risiko volatilitas dan tidak hanya mengandalkan satu indikator ketika mengambil keputusan di pasar kripto.

Baca Juga
Berbagi
Suka dengan artikel ini? Ajak temanmu membaca :D
Posting Komentar