Ray Dalio Sebut Dunia Masuk “Stage 6”, Ini Dampaknya bagi Bitcoin dan Pasar Keuangan
![]() |
| Begini kondisi bitcoin jika terjadi perang dunia (Dok. Unsplash) |
CariUang - Investor kawakan sekaligus pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menilai tatanan dunia yang terbentuk pasca Perang Dunia II tengah memasuki fase rapuh.
Ia menyebut kondisi global saat ini berada pada tahap akhir dari siklus besar kekuatan dunia yang ia sebut sebagai “Big Cycle”.
Dalam kerangka pemikirannya, dunia kini berada di “Stage 6”, yaitu periode ketika dominasi satu kekuatan besar mulai melemah sementara pesaingnya semakin menguat.
Pada fase ini, ketegangan antarnegara meningkat dan aturan internasional tak lagi menjadi rujukan utama.
“Dalam istilah saya, kita berada di Stage 6 dari Big Cycle, di mana muncul kekacauan besar karena tidak ada aturan yang benar-benar ditegakkan. Yang berlaku adalah kekuatan, dan terjadi benturan antar kekuatan besar,” tulisnya.
Dalio menjelaskan bahwa berbeda dengan sistem politik dalam negeri yang memiliki lembaga hukum dan penegakan aturan, hubungan antarnegara tidak memiliki otoritas netral yang benar-benar mengikat.
Ketika keseimbangan kekuatan berubah, konflik dinilai hampir tak terhindarkan.
Ia menguraikan lima bentuk konflik yang lazim muncul dalam fase ini, yakni perang dagang dan ekonomi, perang teknologi, perang modal melalui sanksi serta pembatasan finansial, perebutan pengaruh geopolitik dan aliansi, hingga potensi konflik militer.
Menurutnya, konflik besar jarang diawali dengan konfrontasi bersenjata. Tekanan ekonomi biasanya menjadi tahap awal sebelum situasi berkembang lebih jauh.
Ia juga menyoroti dilema yang dihadapi negara-negara besar ketika berhadapan satu sama lain.
“Pilihan yang dihadapi negara-negara yang saling berseberangan—bertarung atau mundur—sama-sama sulit. Bertarung mahal dari sisi nyawa dan uang. Mundur mahal dari sisi reputasi dan kekuatan politik,” tulisnya.
Dalio menambahkan bahwa ketika dua kekuatan memiliki kemampuan saling menghancurkan, dibutuhkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi untuk mencegah eskalasi.
Namun, menurutnya, sejarah menunjukkan situasi seperti itu jarang tercapai.
Meski tidak secara langsung meramalkan perang terbuka, ia melihat sejumlah indikator transisi kekuatan global mulai tampak, terutama dalam rivalitas antara Amerika Serikat dan China, termasuk dinamika di kawasan Taiwan.
Meningkatnya ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong pelaku pasar masuk ke mode “risk-off”, di mana dana dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Dalam beberapa waktu terakhir, emas mencatat rekor harga baru, sementara pasar kripto sempat tertekan akibat gejolak kebijakan tarif pada Oktober.
Analis pasar Ted Pillows menilai risiko global yang meningkat berpotensi memperbesar fluktuasi harga di berbagai aset.
“Untuk saham, ini kemungkinan berarti volatilitas lebih tinggi, valuasi lebih rendah, dan pergerakan harga yang lebih tajam seiring naiknya risiko geopolitik. Untuk kripto, melemahnya kepercayaan terhadap uang tradisional bisa mendorong minat jangka panjang, tetapi tekanan jangka pendek tetap bisa memicu gejolak harga yang ekstrem,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan aset kripto di posisi yang unik di satu sisi dianggap sebagai alternatif lindung nilai terhadap sistem keuangan tradisional, namun di sisi lain tetap dikategorikan sebagai aset berisiko tinggi.
Jika fragmentasi sistem keuangan global semakin dalam ditandai dengan sanksi, pembekuan aset, dan pembatasan transaksi lintas negara jaringan terdesentralisasi seperti Bitcoin berpotensi dipandang sebagai jalur alternatif di luar sistem perbankan konvensional.
Sifatnya yang tahan sensor dan tidak dapat dibekukan oleh satu otoritas menjadi sorotan dalam konteks ketegangan global.
Namun demikian, pasar kripto tetap sangat bergantung pada likuiditas global.
Saat kebijakan moneter mengetat dan investor mengurangi eksposur terhadap risiko, aset volatil seperti Bitcoin dan altcoin cenderung mengalami tekanan lebih dahulu.
Dengan demikian, perubahan tatanan global dapat memperkuat narasi jangka panjang kripto sebagai alternatif sistem keuangan, tetapi dalam jangka pendek, arah pergerakan harganya masih sangat dipengaruhi sentimen risiko global.

